Sejak Samsung Galaxy Z Fold 3 menjadi smartphone pertama dengan under-display camera (UDC) pada 2021, dunia smartphone sudah menunggu teknologi ini matang. Lima tahun berlalu. Pertanyaannya sekarang bukan lagi "kapan bisa dipakai?" tapi "sudah layak belum?"
Jawabannya: tergantung siapa yang membuatnya.
Di 2026, UDC sudah ada di beberapa flagship — paling menonjol adalah Xiaomi 16 Ultra yang hadir dengan UDC 50MP yang diklaim hampir tidak terlihat oleh mata telanjang. Tapi sementara satu brand sudah melompat jauh, yang lain masih struggle dengan masalah yang sama sejak 2021: kualitas foto yang tidak bisa bersaing dengan kamera depan konvensional.
Artikel ini membahas di mana posisi UDC sekarang, siapa yang sudah melakukannya dengan baik, dan apakah Anda perlu peduli saat beli HP baru.
Apa Itu Under-Display Camera dan Kenapa Ini Sulit?
Under-display camera adalah teknologi yang menempatkan kamera depan di bawah panel layar, sehingga tidak ada notch, punch hole, atau apapun yang memotong tampilan layar.
Secara visual, hasilnya adalah layar yang benar-benar penuh tanpa gangguan.
Secara teknis, ini adalah salah satu tantangan engineering paling rumit di industri smartphone.
Masalah Fisika yang Harus Dipecahkan
Masalah utamanya sederhana tapi sangat sulit diselesaikan: layar menghalangi cahaya masuk ke sensor kamera.
Panel OLED terdiri dari jutaan piksel yang memancarkan cahaya. Saat kamera berada di baliknya, piksel-piksel tersebut mengurangi transmisi cahaya yang mencapai sensor — dan cahaya adalah bahan baku utama fotografi.
Untuk mengatasinya, produsen harus:
- Mengurangi kerapatan piksel di area kamera agar lebih banyak cahaya masuk — tapi ini bikin area tersebut terlihat berbeda dari layar sekitarnya
- Membuat piksel yang lebih transparan saat kamera aktif — teknologi yang sangat kompleks
- Meningkatkan kemampuan komputasi untuk kompensasi foto yang kurang cahaya lewat software
Tidak ada solusi yang sempurna. Setiap pendekatan ada trade-off-nya.
Perkembangan UDC dari 2021 sampai 2026
Teknologi UDC sudah melewati beberapa generasi yang masing-masing punya lompatan signifikan.
| Generasi | Contoh Device | Kualitas UDC | Masalah Utama |
|---|---|---|---|
| Gen 1 (2021) | Samsung Galaxy Z Fold 3 | Sangat buruk | Ghosting parah, noise ekstrem, area kamera terlihat jelas |
| Gen 2 (2022) | ZTE Axon 40 Ultra, Xiaomi MIX Fold 2 | Buruk-Sedang | Masih ada ghosting, detail kurang |
| Gen 3 (2023) | Samsung Galaxy Z Fold 5, ZTE Axon 50 Ultra | Sedang | Membaik tapi masih kalah jauh vs punch hole |
| Gen 4 (2024) | Samsung Galaxy Z Fold 6, Honor Magic V3 | Sedang-Baik | Lebih konsisten, tapi masih ada artefak |
| Gen 5 (2025-2026) | Xiaomi 16 Ultra | Baik | Area kamera hampir tidak terlihat, kualitas foto meningkat drastis |
Lima tahun perkembangan, dan kita baru sampai di level "baik" — belum "setara dengan punch hole". Ini gambaran betapa sulitnya tantangan teknisnya.
Xiaomi 16 Ultra: Benchmark Baru UDC di 2026
Kalau ada satu perangkat yang mendefinisikan ulang ekspektasi terhadap UDC di 2026, itu adalah Xiaomi 16 Ultra.
Xiaomi 16 Ultra menawarkan pengalaman layar penuh yang sesungguhnya dengan UDC 50MP yang hampir tidak terlihat oleh mata telanjang.
Angka 50MP adalah lompatan besar. Sebagai perbandingan, kamera UDC generasi sebelumnya rata-rata ada di 16-20MP dengan kualitas yang jauh dari memuaskan.
Apa yang Berbeda dari Xiaomi 16 Ultra?
1. Piksel transparan generasi baru
Xiaomi mengembangkan panel OLED dengan teknologi piksel yang bisa berubah menjadi lebih transparan saat kamera aktif. Transmisi cahaya diklaim meningkat 40% dibanding generasi sebelumnya.
2. Algoritma AI yang lebih agresif
Kualitas foto UDC sangat bergantung pada post-processing. Xiaomi memperkuat chip ISP (Image Signal Processor) dan algoritma dehazing untuk kompensasi kualitas optik yang inferior.
3. Area kamera yang benar-benar tidak terlihat
Generasi sebelumnya masih bisa dikenali kalau tahu dimana harus melihat — ada perbedaan subtle di tekstur layar. Di Xiaomi 16 Ultra, perbedaan ini sudah hampir hilang.
Kualitas Foto UDC Xiaomi 16 Ultra: Seberapa Baik?
Bagus untuk kelas UDC. Tapi tetap harus jujur: dalam kondisi cahaya terang, foto selfie dari UDC Xiaomi 16 Ultra masih sedikit di bawah kamera punch hole di kelas harga yang sama.
Yang berubah adalah gap-nya sudah jauh mengecil. Kalau dulu perbandingannya seperti kamera DSLR vs kamera HP jadul, sekarang lebih seperti kamera HP flagship vs kamera HP mid-range — masih ada perbedaan, tapi tidak separah dulu.
Dalam kondisi indoor atau rendah cahaya, perbedaannya lebih terasa karena sensor UDC menerima cahaya lebih sedikit.
Samsung dan Apple: Kapan Mereka Masuk?
Dua nama terbesar di industri smartphone masih belum all-in ke UDC untuk flagship utama mereka. Ini menarik, karena artinya teknologi ini belum dianggap "siap" oleh dua perusahaan dengan standar kamera tertinggi.
Samsung
Samsung Galaxy Z Fold 7 (rilis Juli 2026) masih menggunakan UDC untuk layar utamanya — tapi kualitasnya masih di bawah Xiaomi 16 Ultra menurut review awal. Samsung agaknya lebih konservatif dalam memajukan UDC, memilih stabilitas daripada eksperimen agresif.
Untuk Galaxy S series (flagship utama), Samsung masih pakai punch hole di S26 Ultra. Belum ada sinyal kuat kapan S series akan beralih ke UDC.
Apple
Apple dilaporkan sedang menguji teknologi under-display camera untuk iPhone 18, yang berarti notch bisa menyusut atau menghilang sepenuhnya.
iPhone 18 adalah kandidat pertama Apple untuk UDC — tapi ini masih tahap testing, bukan konfirmasi resmi. Apple terkenal tidak merilis teknologi sampai benar-benar siap, jadi kalau iPhone 18 (akhir 2026) benar-benar hadir dengan UDC, itu sinyal kuat bahwa teknologi ini sudah matang.
Laporan menyebutkan bahwa UDC akan mulai masuk mainstream pada Android dan iPhone mulai 2027, menjanjikan layar seamless tanpa punch hole.
LG Innotek dan Peran Supplier
Satu perkembangan menarik yang jarang dibahas: LG Innotek memamerkan UDC generasi terbaru di CES 2026 yang diklaim mempertahankan 99% kualitas gambar — meski showcase ini untuk aplikasi otomotif, bukan smartphone.
Mengapa ini relevan? Karena LG Innotek adalah salah satu supplier Apple untuk komponen UDC, dan teknologi yang dipamerkan untuk mobil sering kali menjadi fondasi untuk implementasi di smartphone berikutnya.
Kalau LG bisa mencapai 99% kualitas gambar di lingkungan otomotif yang lebih terkontrol, versi smartphone-nya — meski dengan trade-off berbeda — berpotensi jauh lebih baik dari yang ada sekarang.
Perbandingan: UDC vs Punch Hole vs Pop-Up Camera
Untuk konteks yang lebih lengkap, ini perbandingan tiga pendekatan kamera depan yang pernah ada:
| Aspek | Under-Display Camera | Punch Hole | Pop-Up Camera |
|---|---|---|---|
| Tampilan layar | Penuh, tidak ada gangguan | Ada lubang kecil di layar | Penuh saat kamera disimpan |
| Kualitas selfie | Sedang-Baik (masih berkembang) | Sangat baik | Sangat baik |
| Ketahanan | Sangat baik (tidak ada bagian bergerak) | Sangat baik | Kurang baik (mekanik bisa rusak) |
| Harga | Mahal (teknologi premium) | Murah (sudah mainstream) | Sedang (mekanik menambah biaya) |
| Desain | Terbaik | Sangat baik | Baik (tapi tebal) |
| Masa depan | Teknologi masa depan | Masih dominan di 2026 | Sudah ditinggalkan |
Pop-up camera hampir punah karena masalah ketahanan mekanik. Punch hole saat ini masih mendominasi karena kualitas foto terbaik di biaya yang masuk akal. UDC adalah arah masa depan tapi belum sepenuhnya menggantikan punch hole.
Masalah yang Masih Belum Terpecahkan
Bahkan di implementasi terbaik sekarang (Xiaomi 16 Ultra), ada beberapa masalah UDC yang belum sepenuhnya diselesaikan:
1. Kualitas foto di cahaya rendah
Ini adalah kelemahan paling konsisten UDC. Sensor menerima lebih sedikit cahaya, dan hasil foto indoor atau malam hari masih lebih noisy dibanding kamera punch hole setara.
2. Flare dan ghosting saat ada sumber cahaya terang
Saat ada lampu atau jendela di background foto selfie, UDC masih lebih rentan menghasilkan flare dan ghosting dibanding kamera konvensional.
3. Konsistensi antara video call dan foto
Kualitas video call (yang butuh frame rate konsisten) masih kurang memuaskan karena algoritmanya lebih sulit dioptimasi secara real-time dibanding foto diam.
4. Biaya produksi masih tinggi
Biaya awal yang tinggi membatasi UDC terutama pada smartphone premium dengan harga di atas $800. Ini berarti UDC belum akan menjangkau segmen mid-range dalam waktu dekat.
Siapa yang Harus Peduli dengan UDC Sekarang?
Tidak semua orang perlu perduli dengan UDC di 2026. Berikut panduan praktisnya:
UDC layak dipertimbangkan kalau:
- Anda prioritaskan pengalaman menonton konten (film, game) di layar tanpa gangguan visual apapun
- Selfie bukan prioritas utama — lebih sering pakai kamera belakang
- Budget ada di kisaran flagship premium (Rp 15 juta ke atas)
- Anda early adopter yang ingin teknologi terdepan
Tetap pilih punch hole kalau:
- Kualitas selfie adalah prioritas tinggi
- Sering video call untuk kerja atau konten kreator
- Budget mid-range sampai upper mid-range
- Lebih suka teknologi yang sudah terbukti stabil
Prediksi: Ke Mana UDC Pergi dari Sini?
Segmen high-end diperkirakan akan mendominasi pasar UDC smartphone, mencakup lebih dari 75% pengiriman global pada 2027.
Berdasarkan trajectory saat ini dan konfirmasi dari berbagai sumber industri, ini yang kemungkinan akan terjadi:
2026 (sekarang): UDC mulai matang di flagship ultra-premium. Xiaomi memimpin, Samsung dan Apple masih menunggu.
2027: Adopsi meluas di flagship mainstream. Kemungkinan besar iPhone 18 Pro dan Samsung Galaxy S27 Ultra hadir dengan UDC jika Apple dan Samsung sudah puas dengan kualitasnya.
2028-2029: UDC mulai turun ke segmen upper mid-range dengan harga Rp 8-12 jutaan. Kualitas foto UDC sudah setara atau mendekati punch hole.
2030+: UDC menjadi standar, punch hole hanya ada di segmen entry-level.
Kesimpulan: Layak di 2026, Tapi Bukan untuk Semua Orang
Teknologi under-display camera di 2026 sudah jauh lebih baik dari 2021 — tapi "jauh lebih baik dari buruk" belum tentu berarti "cukup baik untuk semua orang".
Xiaomi 16 Ultra membuktikan bahwa UDC bisa mencapai level yang benar-benar usable, bahkan impressive untuk kelasnya. Tapi gap dengan kamera punch hole terbaik masih ada, terutama di kondisi rendah cahaya.
Kalau Anda beli flagship ultra-premium dan tidak terlalu peduli dengan selfie terbaik secara absolut — UDC di 2026 sudah layak. Pengalaman layar penuh yang ditawarkannya genuinely impressive.
Kalau selfie adalah prioritas atau budget di bawah Rp 15 juta — punch hole masih pilihan yang lebih rasional.
Titik baliknya kemungkinan ada di 2027, saat Apple dan Samsung resmi all-in ke UDC. Itu adalah momen di mana teknologi ini akan benar-benar dianggap mainstream.
Menurut Anda, seberapa penting layar tanpa punch hole dibanding kualitas selfie yang optimal? Mana yang Anda prioritaskan? Share di kolom komentar!



Posting Komentar